Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2018

Cerita Pendek

SERATUS PERSEN MUSLIMAH

 Karya :Kader IMM Achilles



 “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” 

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

       Sang fajar perlahan-lahan mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, matahari terlihat lebih cerah hari ini, seolah menandakan senyuman bahagia setelah gelap menyelimuti.

Ada yang mengagetkan hari ini. Kaget bukan karena hari ini teman-teman memakai berbagai baju batik sesuka hati,beda dengan biasanya yang  memakai baju putih putih khas anak kesehatan, nilai ujian yang tiba-tiba anjlok, atau kaget karena digertak teman yang biasa usil di kelas. Tapi kaget dengan penampilan Amil yang berubah 360 derajat. Penampilannya yang tertutup membuat siswa seantero SMK Kesehatan Mulia Husada menjadi geger. Baju panjang dan kerudung lebar membuatnya terlihat lebih anggun daripada pakaian ketat yang selalu ia pakai di hari-hari sebelumnya. Pasalnya, Amil terkenal sebagai cewek yang tomboy, celana ketat dan kaos oblong biasa menemani kesehariannya, hingga muncul pemikiran bahwa mustahil bagi Amil mengenakan baju panjang dan kerudung lebar.

Amil mengayunkan langkahnya menuju ruang kelas, ia menyapa teman-teman yang sedari tadi melongo melihatnya, ada yang menatapnya dengan memasang muka cemberut, ada juga yang tersenyum, bahkan ada yang melihatnya tanpa berkedip.

“Assalamu’alaikum”

Sapa Amil kepada teman-teman yang mulai tadi terkejut melihatnya. Namun mereka hanya diam tertegun tanpa menjawab salam dari Amil.

“Hei Mil, kesurupan jin apa lu? Kok tiba-tiba berubah jadi gini?” tanya Mei, sahabatnya.

“Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk berhijrah.”

Sambil tersenyum ia masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi paling depan, tepat di depan meja guru.

“Wuuih,Amil sekarang berubah eey. Lihat tuh sekarang udah belajar duduk di depan. Biasanya kan tidur di belakang. Haha..”

Gumam salah satu teman diiringi suara gaduh teman sekelas.

“Astaghfirullah, jek dek iyeh rah*(jangan gitu dong)*, dia kan sekarang lagi belajar jadi orang baik, hargai lah” seru Rara kepada teman-temannya yang heboh menggoda Amil.

Tiba-tiba pak Wahono guru Anatomi yang terkenal killer masuk ke dalam kelas. Suara gaduh teman-teman pun mulai menghilang.

Jam pelajaran telah usai. Amil masih duduk di bangkunya. Entah apa yang sedang ia
fikirkan, wajahnya yang cantik menyiratkan kegelisahan.

“Assalamu’alaikum Mil” sapaanku membuyarkan lamunannya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Amil spontan.

“MasyaAllah, barakallah ya Mil, semoga istiqomah” lanjutku sambil melemparkan
senyuman manis.

“Aamiin. InsyaAllah Di, ternyata gak mudah ya jadi orang baik, banyak
yang mencibir.” Lanjut Amil dengan menunduk .

Aku yang sedari tadi merasakan kegelisahan Amil mencoba untuk menenangkannya.
Tanpa pikir panjang,aku langsung memeluk Amil sambil mengusap kepalanya.

“Yang sabar ya Mil, sesungguhnya Allah tidak akan mengujimu melebihi batas kemampuanmu. Ikhlaslah melakukan sesuatu karena Allah, InsyaAllah semua yang kita lakukan akan terasa ringan.”

Ucapku menenangkan hati Amil.

“Jazakillah khoir Di, kamu selalu ada buat aku”, Amil kini kembali tersenyum.

“Iya Mil, sebaik-baik manusia adalah yang saling mengingatkan dalam kebaikan, yaudah yuk kita ke kantin.”  Aku pun menarik tangan Amil.

Kita berjalan menyusuri setiap kelas dan berbincang-bincang seputar ajaran Islam.

“Oya, nanti malem baca buku yuk” ucapku kepada Amil.

Aku adalah salah satu orang yang sering sekali mengajak Amil untuk berhijrah dan lebih mengenal Islam. Ya meski berat, setidaknya aku sudah berusaha setelah itu aku hanya bisa Tawakkal saja kepada Allah yang Maha membolak balikkan hati.

“Emm, boleh Di. Di mana?” Jawab Amil.

“Okesip deh, nanti aku ke rumahmu yaa.” Ucapku.

Kita pun memesan makanan dan menikmatinya.

Malam ini angin bertiup sepoi-sepoi, suara gemericik air mancur di depan rumah
Amil menjadikan suasana malam ini begitu tentram. Amil duduk di gazebo yang tersedia di
depan rumahnya menunggu kedatanganku. Dua gelas teh hangat dan semangkuk makanan
sudah ia sediakan untuk menyambut kedatanganku saat itu.

“Assalamu’alaikum” ucapku.

Amil menjawab salam dan langsung menyambut kedatanganku dengan hangat. Seperti biasa, kita bersalaman terlebih dahulu setiap kali bertemu.

“Gimana? Sudah siap belajar?” tanyaku.

“Siaap dong!” jawab Amil dengan wajah sumringah.

Kita memulai aktifitas membaca dengan membaca doa terlebih dahulu.

“Kamu bangga menjadi seorang muslimah?” tiba-tiba pertanyaanku itu mengejutkan Amil.

“Iya, aku bangga menjadi seorang muslimah” tanpa basa-basi Amil pun menjawab pertanyaan yang
dilontarkan olehku.

“Alhamdulillah, apakah saat ini kamu sudah menjadi seratus persen muslimah?” Pertanyaanku yang terakhir ini benar-benar membuat Amil terdiam dan sesekali menelan ludahnya.

Melihat respon Amil yang terdiam tanpa kata-kata, akhirnya aku melanjutkan kalimatku.

“Pertanyaan ini juga berlaku buat aku Mil. Di sini kita sama-sama belajar, mari
mulai dari sekarang kita belajar untuk menjadi seratus persen muslimah. Bukan menjadi
muslimah abal-abal, yang pagi hari beriman, sore harinya tidak. Tetapi jadilah muslimah
yang benar-benar muslimah, yang tetap istiqomah dalam keimanan. Jika kita menolong
agama Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, InsyaAllah
kebahagiaan dunia akhirat pasti akan kita dapat dan Allah akan menolong kita pula nanti di
yaumul hisab.”

Amil yang sedari tadi terdiam kini mencoba untuk membuka suaranya

“Iya Di, jazakillah khoir. Mulai malam ini aku akan berusaha untuk menjadi seratus persen muslimah.
Kita harus sama-sama saling mengingatkan dalam kebaikan yaa.”

“Amiin. InsyaAllah Mil. Sebagaimana yang tertera dalam (HR. Al-Bukhari dan Muslim) ‘Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini)’. Semoga kita menjadi salah satu dari orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama ini.” ,

“Aamiin” Amil memelukku dengan penuh kasih sayang.


Malam semakin larut, suara jangkrik semakin kompak bak paduan suara. Sedang

langit masih terang dengan bintang-bintang dan sinar indah sang rembulan. Sebelum beranjak
ke tempat tidur, Amil menjatuhkan pandangannya menuju cermin besar yang tersedia di
kamarnya. Ia menatap wajah yang terpampang di hadapannya dalam-dalam.
Pertanyaanku yang tadi masih melekat dalam pikirannya,

“Benarkah aku sudah menjadi seratus persen muslimah?” ia terus bertanya-tanya dan berbicara dengan dirinya sendiri.

Ia rebahkan tubuhnya ke atas kasur yang tak begitu empuk itu. Kasur spon yang sudah
menemaninya bertahun-tahun. Hatinya terus berkata-kata

“Bismillah! Mulai saat ini aku bertekat untuk menjadi seratus persen muslimah.”

Ia pun mematikan lampu dan memulai kehidupannya dengan rangkaian mimpi keindahan surga.



Kamis, 29 November 2018

Cerita Pendek

SINGLELILLAH
Karya : Devi Rara Sari




Suatu hari hiduplah seorang pemuda sebut saja dia Affan. Affan berusia 20 tahun, Affan merupakan anak yatim yang ingin kuliah akan tetapi ada kendala di biaya. Affan setiap hari hanya membantu ibunya jualan bakso, suatu ketika ada pelanggan bakso ibu Affan dan tiba – tiba menawarkan beasiswa kuliah di Amerika, dengan bahagianya serta rasa syukur Affan langsung menerima beasiswa tersebut dan Affan pun berangkat ke Amerika. Sesampainya di Amerika Affan begitu tekun belajar dia memanfaatkkan kesempatan itu sebaik mungkin. Ketika jam istirahat, Affan duduk – duduk di depan kelasnya sambil membaca buku, tiba – tiba ada seorang wanita berhijab abu – abu sebutlah Syifa datang mengahampirinya.

Syifa :(menghampiri Affan sambil memegang sebuah buku tulis)  Assalamu’alaikum...

Affan : Wa’alaikummussalam Warohmatullahiwabarokatu..

Syifa : (duduk di samping Affan) soal yang minggu kemarin, bagaimana jawabannya?

Affan : maaf saya singlelillah.

Affan pun pergi meninggalkan Syifa. Lalu Affan pergi ke taman kampus sambil menghirup udara segar. Setelah beberapa tahun di Amerika tiba saatnya pengumuman kelulusan, dan alhamdulillah Affan menjadi mahasiswa lulusan terbaik. Kini Affan menjadi direktur di sebuah perkantoran, meskipun kini dia menjadi orang yang sukses dia tidak pernah lupa akan kebiasaannya dulu yaitu one day one juz. Kini semua impian yang dulu dia catat di lembar – lembar yang di tempel di dinding kos nya semuanya terwujud. Hanya satu target yang belum terwujud yaitu menikah di tahun 2018. Tiba – tiba Affan menerima telfon dari ibunya.

Affan       : Assalamu’alaikum ma...

Ibu Affan : Wa’alaikummussalam fan...

Affan        : apa kabar ma?

Ibu Affan : alhamdulillah, fan mama mau nagih janji kamu, target nikahmu kan tahun ini, mama ingin segera menimang cucu, pulang lah nak ke Indonesia mama kangen. Saran mama, kamu kerja dan buka bisnis di Indonesia, supaya dekat dengan mama.

Affan       : iya ma...

Ibu Affan : iya sudah Assalamu’alaikum..

Affan       : wa’alaikummussalam...

Affan pun memikirkan ucapan mamanya tadi, sambil duduk di sofa dan memperhatikan foto masa SMA nya. Ternyata Affan memendam rasa kepada Anis teman SMA nya.

***

Indonesia
Anis, dia memiliki 2 orang laki – laki yang sangat dia sayangi yang pertama adalah papanya orang yang paling berjasa dalam hidupnya, orang yang sudah mengenalkan dunia yang dia sukai saat ini, dan yang ke dua adalah kekasihnya sebutlah Adit. Anis dan Adit sudah 2 bulan menjalin hubungan, ketika Anis sedang melamun tiba – tiba ada telfon dari Adit.

Anis : halo..

Adit : nis aku ingin kita bertemu di tempat biasa, aku ingin bicara serius denganmu (langsung mematikan telfonnya)

Dengan senang hati Anis pun berangkat menemui Adit. Tiba di sebuah restoran yang                          bertemakan zaman dulu, jadi..semua barang – barangnya antik ya..:) Adit pun datang..

Adit : Assalamu’alaikum..

Anis : Wa’alaikummussalam..

Adit : sudah lama nunggu?

Anis : nggak kok. Oh iya kamu mau ngomong apa? (Sementara hati si Anis bercampur aduk antara bahagia dan penasaran) oh iya sebelum itu kita pesan makanan dulu...

Adit : gak usah, aku sebentar saja kok.

Anis : lah tumben kenapa? biasanya kan kita pesen makan baru ngobrol?? (Anis pun tambah gelisah dan penuh tanda tanya).

Adit : (Adit terdiam) apakah mungkin aku bisa menyampaikan kabar ini kepada Anis, di sisi lain aku tidak ingin menyakiti hati Anis. Bismillahirrohmanirrohim...

Anis : hey..dit kok jadi melamun sih katanya ada yang ingin di bicarain??

Adit : oh..iya nis. Maaf sebelumnya nis, aku.......tidak bisa melanjutkan hubungan ini karena mama papaku sudah menjodohkanku dengan anak teman mereka.

Anis : dasar kamu pembohong! (Menunjuk ke arah Adit) Dulu kamu bilang serius sama aku, dulu kamu bilang bahwa apapun yang terjadi kita akan hadapi bersama! Mana buktinya dit..mana...(sambil menahan air mata). Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!!

Adit pun pergi meninggalkan Anis..sementara Anis masih sedih. Hari demi hari Anis hanya diam di dalam kamar sambil melihat mainan robot kepiting buatan Anis dan Adit. Setelah beberapa hari Anis bersedih tiba – tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya dan ternyata ada bapak gojek mengantarkan sebuah undangan pernikahan Adit dan Rahma calon istri Adit. Sejak itu Anis mulai berfikir jika dia terus larut sedih, hanya saja menghambat segalanya. Dan Anis pun mulai mencari – cari referensi kajian dari youtube untuk mengisi waktu kosongnya serta mengobati sakit hatinya. Anis mendapat informasi kajian singlelillah academy yang akan di laksanakan H-3.

***

Amerika
Affan mulai prepare untuk pulang ke Indonesia sesuai keinginan mamanya serta ingin memenuhi janji yang dulu di ucapkan kepada mamanya.

Affan : ( sambil berdiri di depan jendela kaca kamar apartement) aku ingin menjemputmu dengan kadar kemampuanku, aku ingin mengenalmu dengan cara terbaik, cara yang Allah mau.(dalam batin Affan)

***
Indonesia

Sementara Anis setiap kali teringat Adit dia lampiaskan semuanya di badminton. Perlahan Anis mulai move on dari Adit. Waktu yang di tunggu – tunggu selama ini pun tiba yaitu kajian singlelillah academy Anis dan temannya berangkat menuju lokasi. Sampai di lokasi, kajian sudah di buka oleh pembicara sebut saja kak Doni. Setelah di buka kajiannya tiba – tiba ada seorang lelaki yang baru hadir, ternyata itu adalah Affan.

Anis : (melihat ke arah Affan) sepertinya aku kenal sama lelaki itu, masak iya dia si Affan teman SMA ku dulu? Gak mungkinlah. (dalam batinnya, lalu Anis fokus kembali kepada pembicara).

Materi di mulai

Doni : Ta’aruf adalah metode saling kenal mengenal bagi sahabat singlelillah yang sedang serius berproses menuju pernikahan, ta’aruf di laksanakan dengan tahapan sesuai syari’at, dan dalam jangka waktu tertentu.

Setelah beberapa jam berlalu..materi pun selesai..Anis dan temannya ke luar, lalu Affan datang mengahampiri Anis..

Affan : Assalamu’alaikum...

Anis : wa’alaikummussalam..

Affan : kamu Anis?

Anis : iya benar (dengan wajah penuh tanda tanya).

Affan : masih ingat aku? Aku Affan teman SMA mu dulu

Anis : oh..Affan, apa kabar fan? Alhamdulillah ya..kita bisa bertemu kembali (sambil menundukkan pandangannya)

Affan : iya nis alhamdulillah

Anis : sudah mau magrib fan, aku pulang duluan ya..assalamu’alaikum (pergi meninggalkan Affan)

Affan : wa’alaikummussalam..(sambil tersenyum sendiri)

Affan lupa tidak menanyakan alamat rumah Anis, karena kabarnya dulu Anis pindah rumah. Affan pun tekat kembali masuk ke dalam ruangan menemui kak Doni untuk meminta data Anis.

Affan : assalamu’alaikum..permisi kak

Doni : wa’alaikummussalam..iya fan ada apa?

Affan : begini saya ingin meminta data yang bernama Anis, ada kak?

Doni : data? Buat apa fan?

Affan : iya kak data, jadi saya ingin menjalani ta’aruf dengan si Anis teman SMA saya dulu. Dia tadi juga ikutan kajian ini kak, tadi sempat saya ngobrol sebentar dengan dia, tapi saya lupa tidak nanya alamat rumahnya, karena dia sudah pindah rumah sekarang.

Doni : oalah jadi gitu..ok deh kakak bantu ya fan dalam proses ta’arufnya, lain waktu kalian bisa menemui kakak kembali di sini (sambil memberi data Anis)

Affan : terimakasih banyak kak, insyaallah Affan ke sini lagi kak sama Anis

Doni  : siap siap

Affan : affan pamit dulu ya kak, assalamu’alaikum...

Doni  : iya fan wa’alaikummussalam...

Affan pun membaca data Anis, di data tersebut terdapat email Anis. Affan langsung chat Anis via email dan Affan pun mengajak Anis ta’aruf. Anis membalas email Affan dan menerima ajakan Affan untuk ta’aruf meskipun masih ada rasa trauma akibat kejadian masa lalunya. Mereka pun saling tukar menukar data melalui email. Anis memberitahukan kabar ini kepada ibunya yang sedang berada di kamarnya.

Anis      : assalamu’alaikum ma..

Ibu anis : wa’alaikumsalam iya nak? Ada apa?

Anis    : anis mau ngasih kabar gembira kepada mama, ada laki – laki yang mengajak anis ta’aruf ma, dia Affan teman SMA anis (sambil memberikan data Affan kepada ibunya). Ini ma latar belakangnya.

Ibu anis : syukurlah nis, mama ikut bahagia (memegang pundak anis), jadi kapan dia bisa datang menemui mama?

Anis : mama setuju nih Anis sama Affan? (Memeluk ibunya) insyaallah minggu depan ma.


Ibu anis : iya nis.

Affan dan Anis mendapat chat dari kak Doni. Bahwa besok mereka menemui kak Doni di rumahnya.
Keesokan harinya...Affan dan Anis datang menemui kak Doni. Mereka diberi arahan dan pengetahuan untuk bekal pernikahan mereka. Satu bulan mereka menjalani ta’aruf, dan Affan pun datang kerumah Anis untuk menghitbah Anis. Keluarga Anis pun menerima lamaran Affan, mereka pun menentukan tanggal pernikahan mereka yang selisih satu minggu dari lamaran Affan. Anis dan Affan mempersiapkan pernikahan mereka. Pada tanggal 8/08/2018 mereka pun menggelar resepsi pernikahan mereka. Affan berhasil selama ini dia berpegang teguh pada prinsipnya SINGLELILLAH. Kini hati Anis yang sempat terluka sudah terobati, Anis mendapat sosok lelaki yang lebih baik dari Adit dan yang bisa membimbing Anis untuk menuju syurgaNya. Dan terbayar sudah janji Affan kepada mamanya untuk mencapai target nikah di tahun 2018.

Senin, 22 Oktober 2018

Ibu


Disebuah pelosok desa ada satu rumah yang berada paling pojok, rumah sederhana yang sudah terlihat tua sedikit rapuh, berlubang bahkan jendela kamarnya ada yang copot. Disekitar rumah itu hanya ada obor yang menyala nyala untuk menerangi rumah yang sudah renta itu. Didalam rumah itu hanya ada seorang anak perempuan dan ibunya yang tidak ada sosok laki laki yang membantu nya untuk mencari nafkah. Sosok ibu ini lah yang menjadi tulang punggung keluarganya, dialah yang melakukan semua pekerjaan yang tak sepantasnya dilakukan perempuan.Bu indun sebutan akrab yang biasa diucapkan oleh warga sekitar untuk menyapa sosok ibu yang sangat luar biasa. Setiap pagi dapur bu indun tak pernah henti mengeluarkan kepul asap dan pada saat warga masih tertidur nyenyak, bu indun sudah sibuk dengan peralatan masak untuk membuat adonan  kue kue yang akan dijual berkeliling dari desa kedesa. Pukul 04:00 pagi ibu indun sudah harus menyelesaikan semua masakannya dan mempersiapkan kue kue yang akan dijual. Setelah selesai ibu indun beranjak membersihkan diri dan segera sholat subuh, sebelum berangkat kerja ibu indun harus menyiapkan makanan untuk anaknya yang akan berangkat kuliah, Ibu indun berangkat jualan pukul 06:00 pagi.

Bu indun: “ srindun dun bangun nak, matahari sudah terbit, ayo sekolah”
Srindun : iya bu ini sudah bangun, masih membersihkan tempat tidur
Bu indun: iya nak, ibu mau berangkat jualan kamu makan aja udah ibu siapin pakaian mu juga
Srindun: makasi bu, hati hati dijalan semoga jualannya habis ya bu ( sambil mencium tangan   ibunya)
Bu indun: iya nak ibu berangkat,assalamualaikum
Srindun: waalaikumsalam

Bu indun pun berangkat jualan keliling dengan semangat nya yang kuat dan kaki kecilnya melangkah secara perlahan menelusuri setiap rumah yang beliau lewati. dari desa satu kedesa yang lain, dengan suaranya yang sangat lantang dank has ibu indun menjajakan kue kue nya.
Ibu indun: “ bang darling oh bang darling bakwan kacang sama dadar guling”
Ibu indun: “ bang darling oh bang darling bakwan kacang sama dadar guling”
Itulah lagu khas ibu indun untuk menarik perhatian calon pembeli dan warga sekitar, bu indun sanggat sabar dan menerima berapapun hasil yang diperolehnya. Matahari semakin terik yang membuat keringat bu indun bercucuran tapi itu bukan lah halangan bagi bu indun untuk mencari risky, setiap hari kurang lebih 15 km jalanan yang dilewati bu indun naik turun, berbatu tatkala sering banyak goresan luka pada kaki kecil bu indun. Demi untuk memenuhi kebutuh sehari hari dan membiayai anaknya sekolah bu indun rela melakukan apa saja dengan cara yang halal. Kehidupan bu indunan sudah 3 tahun dijalani setelah kepergian suaminya yang menderita sakit kanker dan pada akhirnya suaminya meninggal dunia.sejak saat itu kehidupan bu indun berubah 180 derajat, ibu indun tidak lagi hanya menjadi seorang ibu. Ibu indun juga harus bisa menjadi sosok seorang ayah bagi anaknya dan melakukan apa saja sendiri.
Hari sudah semakin sore, tetapi jualan bu indun masih belum terjual semua. Dengan wajah letih,lesu bu indun memutuskan untuk balik kerumah dan melanjutkannya besok pagi. Bu indun pun pulang dengan wajah yang kusut.
Bu indun: assalamualaikum “nak ibu sudah datang”
Srindun: waalaikumsalam gimana hasil jualannya hari ini bu?
Bu indun: ya begitulah nak, masih ada sebagian yang belum laku
Srindun: ya padahal srindun butuh uang bu
Bu indun: buat apa nak?
Srindun: begini bu, sekarang sudah waktunya bayar spp sama uang buku bu
Bu indun: berapa uang yang dibutuhkan nak?
Srindun: sekitar 400 ribu bu
Bu indun: Untuk apa uang sebanyak itu Sri?
Srindun: iya bu, itu untuk biaya buku sama seragam olahraga yang baru.
Bu indun : Heeem (sambil meghembuskan nafas panjang), ya sudah minggu depan ibu usahakan ada?
Srindun : Iya bu tidak apa-apa, mana wadah jajan yang kotor biar sri bantu cuci di belakang
Ibu indun : ini Sri
Setelah mendengar keluh kesah yang di ucapkan oleh anaknya ibu Indun berfikir keras bagaimana memperoleh uang sebnayak itu sedangkan untuk makan sehari – hari saja mereka berdua sedikit kesusahan, Ibu Indun lekas membersikan badan lalu mengambil air wudhlu dan segera menunaikan sholat, Ibu Indun adalah sosok ibu yang benar – benar luar biasa dia tidak senantiasa bersyukur dengan keadaan, dia tidak pernah menunjukan rasa letih, susah bahkan sedih di hadapan Sri anak semata wayangnya.
Sri : Bu, Ibu (sambil membawa segelas the hangat ), Ibu sudah selesai sholat??
Ibu Indun : (kaget, tersadar dari lamunan setelah selesai berdo’a) iya Sri …
Sri : Ini Bu, aku buatkan teh angat untuk ibu
Ibu indun : Subhannallah kamu anak yang berbakti nak, semoga kelak kamu menjadi anak yang sukses (sambil membelai rambut sri)
Sri : (tersenyum manis) amin bu
Sri adalah anak ibu Indun semata wayang, dia anak perempuan yang sangat kalem, manis dan berbakti kepada orang tua, sekarang dia duduk di bangku kelas 6 SD, dokter adalah cita – cita Sri. Dia ingin menjadi dokter agar kelak dia dapat menyalamatkan nyawa orang yang sakit agar tidak sampai meninggal seperti ayahnya, dia adalah sosok murid yang rajin dan santun di sekolah, banyak prestasi yang di ukir serta beasiswa yang dia dapat setiap tahunnya, Sri sadar bahwa dia terlahir di keluarga yang kurang mampu. Maka belajar dan menjadi pandai adalah hal yang di haruskan.
Setiap hari keluarga kecil ini melewati hidup yang sangat sederhana, mereka tidak pernah mengeluh bahkan tidak pernah mengenal kata lelah. Ibu Indun yang harus menjadi orang tua tunggal dari Sri adalah sosok wanita tangguh, beliau sabar merawat Sri sendiri, sejak Sri kelas 3 SD hingga sekarang mau lulus, gurat – gurat keriput yang semakin hari semakin bertambah pada raut muka Ibu Indun terkadang membuat Sri meneteskan air mata tanpa sebab, Sri takut suatu saat ibunya bisa pergi meninggalkan dirinya seperti ayahnya
Ibu Indun : Loh Sri kenapa nduk kok kamu nangis
Srindun : (Kaget) Ah, anu Bu, tidak kok kelilipan
Ibu Indun : Owalah, Ati – ati nak
Srindun : Iya bu, ayo kita makan bu, itu sudah aku gorengkan tahu sama sambal
Ibu Indun : Ayoo nak kita makan.
Setelah selesai makan srindun masuk kekamar, didalam kamar yang remang remang dia menagis kembali, dia masih teringat dengan hayalannya yang takut kehilangan ibunya. Dan dia tertidur dengan wajahnya yang masih dalam keadaan menangis.
Hari sudah pagi, ayam mulai berkokok membangunkan manusia untuk sholat subuh dan melakukan aktivitas kembali. Bu indun sudah mempersiapkan barang dagangannya seperti biasa yang dia lakukan. Bu indun berangkat lagi untuk menjual dagangannya keliling desa.
Bu indun: “ bang darling oh bang darling bakwan kacang dadar gulung”
Bu indun: “ bang darling oh bang darling bakwan kacang dadar gulung”
Dengan kondisi bu indun yang sudah semakin tua, beliau sudah mulai kelelahan untuk berjalan dengan jarak yang sangat jauh ditempuhnya untuk mencari nafkah buat keluarganya. Bu indu tak pernah putus asa untuk mencari rizky, beliau menerima dengan ikhlas berapapun hasil yang didapatkannya, karena beliau percaya jika ada kesusahan pasti ada kemudahan untuk dirinya dan anaknya melangsungkan hidup nya sehari hari.  Dan bu indun pun pulang kerumah dengan nafas yang ngos ngosan seperti dikejar hantu, diusia nya yang sudah mulai tua membuat bu indun tak kuat berjalan lagi dengan jarak yang begitu jauh dari rumahnya.
Srindun: kelihatannya ibu capek sekali ya? Tak ambilkan air ya bu
Ibu sindun: iya nak makasih, ibu gapapa
Srindun: ini bu airnya, sini srindun pijat bu ( dengan menjalurkan tangannya kebahu ibunya)
Ibu sindun: makasi ya nak kamu sudah mau memijat ibu, badan ibu terasa pegal sekali
Srindun: (dia terdiamm) bu aku kebelakang dulu ya
Ibu sindun: iya nak
Sambil membalikkan bahunya srindun meneteskan air mata melihat ibunya yang sudah semakin tua tetapi tetap bersemangat mencari nafkah dan biayanya sekolah, srindun sempat berfikir untuk tidak melanjutkan sekolahnya, agar dia bisa membantu ibunya menjual kue keliling. Dan pada akhirnya dia menceritakan kegelisahan yang ada dihatinya.
Srindun: bu srindun ingin ngomong suatu hal yang penting
Ibu sindun: apa itu nak?
Srindun: ibukan sudah semakin tua lebih baik istirahat dirumah dan biarkan aku yang melanjutkan menjual kue kue keliling bu ( dengan mata yang berkaca kaca)
Ibu srindun:sudahlah nak gapapa, ini sudah kewajiban ibu untuk mensekolahkan kamu
Srindun: tapi bu, ibu sudah semakin tua dan kaki ibu sudah tak mampu berjalan jauh seperti dulu ketika ibu masih kuat ( sambil menatap ibunys dengan penuh kasihan)
Ibu srindun:gakpapa nak, kamu sekolah aja yang rajin agar nanti kau bisa membahagiakan ibu dan pengorbanan ibu tidak sia sia.
Srinden: aku janji bu, aku akan buktikan kepada ibuu kalau aku akan bahagiakan ibu dan tidak menjadi penjual keliling lagi
Srindun semakin bersemangat untuk belajar dengan giat karena dia ingin melihat ibunya bahagia dan bisa mewujudkan impiannya menjadi pengusaha. Hari hari pun mereka lewati dengan sabar dan ikhla, setiap pulang sekolah indun slalu membantu ibunya berjualan. Bulan tahun sudah mereka lalui dan tibalah saatnya dimana srindun bisa mewujudkan impiannya.
Srindun: lihatlah bu, perjuangan mu begitu besar sehingga aku menjadi sekarang ini
Ibu sindun:  iya nak, ibu bersyukur sekali impian mu untuk menjadi pengusaha bisa terwujudkan juga
 srindun: ini semua berkat ibu yang tak pernah lupa mendo’akann ku dan member semangat untuk ku
ibu sindun: iya nak, pesan ibu hanya satu “ jika kamu sudah merasakan kenyamana jangan pernah kamu mempunyai sifat kikir dan sombong”
srindun: pasti bu pasti kata kata mu adalah do’a yang harus aku lakukan bu.



Karya : Kader IMM Achilles

Sahabat


Setiap orang pasti memiliki teman atau yang lebih intens lagi yaitu sahabat. Namun setiap orang berbeda-beda, ada yang tidak bisa hidup tanpa sahabat dan ada pula yang bisa hidup tanpa sahabat. Menurut saya sahabat itu adalah orang yang sangat kita percaya. Ya.. sangat kita percaya dalam hal apapun, menjaga rahasia kita ataupun menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi sebagai sahabatnya. Tapi menurut kalian, apakah ada teman yang menusuk sahabatnya, tidak percaya pada sahabatnya. Ya itu yang sedang saya rasakan, saya sudah bersahabat 14tahun dengan berbagai macam sifat dan keegoisan masing-masing. Tapi selama saya menjalani fase-fase dalam bersahabat ini yang saya rasakan senang dan sedih, tapi banyak senangnya. Memang disemua kehidupan pasti ada senang dan ada sedih.

Saya menikmati semuanya, ada masa dimana saya ingin menyerah karena sebuah ujian-Nya. Tapi disitu sahabat saya berperan penting untuk mengembalikan jati diri saya yang hilang karena kepercayaan diri saya sedang menurun. Tapi semakin bertambah umur saya, semakin naik tingkatan dalam persahabatan saya, semakin besar pula ujian-ujian yang diberi dan saya hadapi. Pertengkaran, keegoisan sudah biasa bukan di dalam persahabatan? Tapi tidak dengan perpisahan, karena persahabatan itu adalah keluarga, tidak ada yang namanya mantan sahabat atapun mantan keluarga. Sahabatku adalah keluargaku, karena dia yang menemaniku disaat apapun, disaat sedih, hancur, terpuruk dan pasti pada saat bahagiaku, pasti aku lewati dengan sahabat.

 Sahabat is everything.  Tapi pernah nggak sih kalian dianggap bukan siapa-siapa, padahal kalian menganggap dia segalanya. Ya, itu yang saya rasakan saat ini. Dimana saya menganggap sahabat adalah keluarga, sahabat adalah segalanya, tapi saya diingat saat ada perlunya saja. Jadi singkatnya, saya bersahabat 9 orang. Dan u know la ya, dari 9 orang itu pasti ada rasa nyaman yg tidak bisa kalian rasakan sama semuanya. Tapi pasti ada saja yang salah mengartikan, ataupun kecemburuan semata. Ya cemburu antar sahabat, cemburu tanpa ada arah dan tujuan dan berujung dengan perpisahan.

Saya merasakan rasanya dihianati oleh sahabat, sahabat yang saya anggap lebih dari apapun. Tapi salah, ya salah besar dia membohongiku mentah-mentah aku merasa aku yang bodoh, aku yang terlalu percaya, dan aku yang salah telah menganggap bersahabatan itu suci. Dan akhirnya persahabatan saya pecah, semua pergi sendiri-sendiri entah kemana. Aku hanya menguatkan diriku sendiri, aku memotivasi diriku sendiri, agar aku bangkit. Dan membangun menset pada diriku, Tentang kepercayaan dalam sebuah persahabatan.

Percaya dan bangkit dalam keterpurukan sendirian itu tidak mudah, tidak mudah mengalahkan ego yang menggebu-nggebu dalam diri. Ada dimana saya mengalahkan itu semua, mengalahkan ego dan rasa kecewa saya kepada mereka-mereka yang tidak berasalah. Saya berjuang mengembalikan semua kawan-kawan saya, semua sahabat saya dan meninggalkan salah satu penghancur dalam persahabatan tersebut, karna prinsip saya tidak ada mantan sahabat, kenapa bisa memutuskan untuk meninggalkan si penghancur? Karena dia bukan sahabat, dan tidak layak disebut sahabat. Karena sahabat tidak menusuk, tidak menipu, serta tidak ada kemunafikan. Sahabat bisa menjaga, melindungi dan membantu dalam semua masalah kita.

Tidak ada dalam satupun yang termasuk dalam dirinya si perusak, karena dia hanya memanfaatkan. Ya, memanfaatkan kebaikan dan ketulusan seseorang yang mempercayainya dalam segala hal, tapi dia kebalikan dari itu semua. Tapi dengan ketulusan kita ber 8, kita dapat kembali membuka lembaran baru, lembaran yang di dasari kepercayaan, kenyamanan, saling percaya, saling melindungi dan saling menjaga satu sama lain.

            Ya, dari masalah persahabatan yang saya alami ini saya bisa mengambil pelajaran bahwa semua teman yang kita percaya, belum tentu dia bisa menjadi sahabat yang baik untuk kita. Dan kita harus bisa menempatkan siapa orang yang dapat kita percaya, dan dia mempercayai kita. Jangan mudah percaya dengan sesuatu yang sebentar kita kenal, baik memang penting dan perlu kesiapa saja, tapi ketika baiknya kita tidak dihargai cukup untuk diri kita tau, tanpa meninggalkan yang tidak menghargai. Eh iya, saya masih berteman dan masih baik kok sama si perusak, karna saya tidak bisa jahat hehe .



Karya : Nadiah Putri Amalia